Kebutuhan pangan semakin meningkat seiring bertambahnya populasi manusia. Sebagai salah satu bahan pokok, pangan menjadi kebutuhan vital yang harus di penuhi. Pangan menjadi simbol kemakmuran suatu wilayah, atau menjadi bencana non alam.


Pemenuhan kebutuhan pangan tidak semata-mata hanya memenuhi dari segi kuantitas atau jumlah makanan, tetapi juga dari segi kualitas. Sebut saja kebuthan akan daging ayam. Jika tetap mengandalkan daging ayam kampung, makan akan membutuhkan waktu yang lama agar bisa dikonsumsi. Munculah bioteknologi pemuliaan ayam potong dimana dalam kurun waktu 40 hari sudah bisa dipanen untuk dikonsumsi.


Permasalah kebutuhan daging ayam tidak hanya sampai disitu, karena ada dampak negaitif yang ditimbulkan dari peternakan. Konsumsi energi, pakan, dan lahan yang besar juga menjadi masalah, selain limbah. Selain itu organisme hidup rentan juga terhadap parasit dan penyakit, sebut saja flu burung. Kualitas daging yang tidak seragam juga memunculkan kendala, sehingga perlu dicari solusinya.


Pada awal tahun 2021 konon Singapura akan merilis daging hasil pembiakan di laboratorium. Dagingtersebut diproduksi secara buatan dengan mengambil sel hidup, lalu dibiakan dengan pemberian nutrisi dan pengaturan faktor lingkungan. Keuntungannya, sudah pasti bisa memilih daging jenis apa, hemat energi, kualitas daging sama, bebas penyakit, dan yang pasti praktis.


Apakah masalah seleoai? Belum, muncul persoalan etik dimana didalamnya pasti akan muncuk gejolak secara sosial dan ekonomi, meskipun sains sudha menjabawnya, Inilah topik perkuliahan Bioteknologi di Kelas SMA Masehi Kudus.


Teknologi Pangan UKSW, kembali menggelar kegiatan Dosen Mengajar yakni pemberian materi di kelas SMA secara daring. Dikoordinir oleh Wahyu Tri Nurhayati, S.Pd dan melibatkan sekitar 80 siswa IPA dari SMA Masehi Kudus, acara ini berlangung lancar dan menarik.


Ada beberapa pertanyaan yang diajukan siswa yang langsung dijawab pemateri yakni Dhanang P, M.Si dengan moderator Pulung Nugroho, M,Si. Bagaimana jika produk biotek gagal dipasaran? tanya seorang siswa. Dicontohkan ada beberapa produk yang harus ditarik dari pasaran, seperti jamur enoki dan susu formula yang terkontaminasi bakteri patogen. Produsen wajib menarik semua produk yang sudah beredar dan bertanggung jawab pada konsumen yang dirugikan. Inilah salah satu konsekuensi dari gagalnya bioteknologi jika ada kesalahan dan terlanjur dipasarkan.


Ada juga pertanyaan yang sifatnya teknis, yakni vacuum drying itu apa? Diilustrasikan, untuk memanaskan air sampai mendidih di tepi pantai membutuhkan suhu 100 derajat celsius, tetapi dipuncak gunung maka tidak ada sampe suhu itu. Naiknya tekanan akan menyebabkan perbedaan titik didik, prinsip inilah yang dipakai untuk mengolah produk yang tidak tahan panas seperti vitamin, pigmen, antioksidan, aromatik dan lain sebagainya.


Diskusi sekitar 60 menit, kata guru pengampu telah meberikan pengetahuan baru berkaitan dengan aplikasi bioteknologi. SMA Masehi Kudus meminta suatu saat bisa pertemuan secara luring dan sekaligus praktik ditempat. Pulung Nugroho, M.Si selaku koordinator promosi akan menjadwalkan kegiatan tersebut usai pandemi. Kita nantikan kelas-kelas berikutnya.