Jamu menjadi salah satu warisan nenek moyang yang saat ini masih menjadi bagian dari budaya masyarakat. Jamu perjalanan panjang etnobotani, sebagi media penyembuh dari luka dan penyakit. Pandemi Covid-19 menjadikan jamu kembali naik daun, dimana diyakini jamu bisa meningkatkan imunitas tubuh atau sebagai immunomodulator.


Masalah muncul ketika tidak semua orang menyukai jamu karena rasanya yang pahit. Teknologi Pangan FKIK UKSW memiliki solusi bagaimana mentransformasi dan memformulasi jamu agar bisa dikonsumsi semua kalangan. 


Rasa pahit dapat dimanipulasi dengan penyalutan menggunakan senyawa yang berbahan dasar polisakarida. Bahan tersebut dapat membungkus rasa pahit, sehingga sensor pahit dilidah tidak dapat mendeteksi. Dengan demikian jamu sudah tidak pahit, kemudian diubah bentuknya menjadi permen dengan harapan semua kalangan bisa mengonsumsi permen.


Pada tanggal 2 April FKIK diajak berkolaborasi dengan Panitia paskah UKSW untuk membagikan jamu dalam bentuk cair dan bentuk permen pada masyarakat. Bagi mereka yang tahan pahit dapam meminum jamu seduhan, bagi yang tidak suka dapat mengonsumsi permen herbal.


Dalam kegiatan tersebut hadir para civitas akademika UKSW, masyarakat umum, pengemudi ojek daring, dan pegawai di sekitar kampus UKSW. Masyarakat merespon baik kegiatan ini, bahkan ada yang mengajukan untuk membeli produk permennya.


Dalam serangkaian serupa 3.130 permen herbal yang terbuat dari miana dan sambiloto dalam bentu 1,050 paket yang berisi madu, masker, permen herbal, dan jamu sachet industri.